Marga Parna

Medanbisnisdaily.com-Medan. Sepasang remaja Batak dari kelompok marga Parna (Pomparan Raja Nai Ambaton) atau keturunan Raja Nai Ambaton) yang diduga ingin melangsungkan pernikahan, sebagaimana yang viral di media sosial dalam beberapa hari ini, terus mendapat kecaman dari masyarakat Batak, khususnya dari kelompok marga Parna.

Simanihuruk adalah salah satu marga Batak yang berasal dari sub-suku Batak Toba. Marga Manihuruk juga merupakan salah satu bagian dari marga yang tergabung dalam Pomparan ni si Raja Naiambaton (PARNA) sisada anak, sisada boru. Suku Batak adalah suku yang berasal dari provinsi Sumatera Utara.Suku Batak memiliki 6 sub suku/etnis yaitu: Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Toba.Keseluruhan subetnis suku Batak memiliki marga yang diwarisi oleh keturunan mereka, dan terdapat banyak marga yang dipakai oleh lebih dari satu subetnis. Nama Cabang Marga Bangso Batak Keturunan Raja Nai Ambaton ( Parna) Setelah membaca tulisan dari Bpk. Sidauruk yang berjudul 'Inilah ke 64 Marga pada Keluarga Besar PARNA', di www.sinarpagibaru.com, Penulis merasa tertantang juga untuk membuat list marga Parna yang konon ceritanya jumlahnya tidak pasti. Dilansir Sinarbanten.com, mengutip buku “Tarombo Marga ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung (1991), dari istrinya bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan mempunyai sembilan orang anak, lima laki-laki dan empat perempuan. Lima laki-laki yakni Raja Biak-biak, Tuan Sariburaja, Limbong Mulana, Sagalaraja, dan Malauraja. MARGA PARNA Keturunan Pomparan Raja naimbaton (PARNA) 1. Simbolon altong 2. Simbolon hapotan 3. Simbolon pande 4. Simbolon panihai 5. Simbolon suhut nihuta 6. Simbolon tuan 7. Sitanggang bau 8.Sitanggang lipan 9. Sitanggang gusar 10. Sitanggang upar 11. Sitanggang silo 12. Saraan (sigalingging) 13. Saragih dajawak 14. Saragih damunte 15.Saragih.

Dalam kebudayaan Batak Toba, pernikahan semarga itu adalah terlarang. Sebab berdasarkan marga, keduanya masih satu darah.

Hal itu disampaikan salah seorang pengurus Punguan Parna Tanjung Morawa, Elim Tamba kepada medanbisnisdaily.com, Senin (7/5/2018) Elim mengecam siapapun yang mendukung pernikahan itu.

'Itu tidak boleh. Kami (Parna-red) punya aturan yang tegas. Enggak boleh ada yang menikahi ito (saudaranya-red) sendiri,' kata Elim.

Parna

Dijelaskan Elim, setahunya, sampai saat ini belum ada marga Parna yang saling menikahi satu sama lain. Marga Parna itu ada 83 marga. Mereka tidak boleh saling menikah. Kalau sampai menikah bisa kena karma.

Marga

Hal sama juga disampaikan warga Parna lainnya yang tinggal di Kelurahan Timbang Deli, Medan Amplas, Hotman Sitanggang. Dijelaskannya, sebagai sesama Parna itu tidak boleh menikah. Menurutnya, bila hal itu berlangsung risikonya besar.

Grup Marga Parna

'Selain tidak diakui dongan tubunya (sesama Parna), kami yakin akan ada karma bagi yang melanggar,' tegas Hotman.

Seperti yang berkembang di media sosial, sepasang muda-mudi, sesama Parna, yang laki-laki bermarga Simbolon dan perempuan boru Tamba, ingin melangsungkan pernikahan. Karena dilarang, konon yang laki-laki sampai mengubah marganya menjadi Siagian (bukan kelompok Parna).

Marga Marga Parna

Dalam kebudayaan Batak Toba (biasanya berlaku bagi pemeluk Kristen) mereka yang masih satu kelompok marga tidak boleh menikah. Meski begitu ada satu dua pelanggaran yang terjadi. Pada umumnya pasangan itu akan diusir dari kampung halamannya, dikucilkan dan tidak dilibatkan dalam kegiatan adat.

Masyarakat Batak Toba sendiri punya ratusan marga yang terklasifikasi dalam kelompok -kelompok marga. Di antaranya Parna, Naimarata (Limbong, Ambarita, Sagala, Malau) Ada juga Raja Sonang (Gultom, Pakpahan, Samosir, Harianja) dan sebagainya.

Di antara kelompok marga itu, yang terbesar/terbanyak adalah Parna. Ada versi menyebut jumlah marga Parna 64 buah, tetapi ada juga versi menyebut jumlahnya lebih dari itu.


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Marga Parna Batak

{{bottomLinkPreText}}{{bottomLinkText}} This page is based on a Wikipedia article written by contributors (read/edit).Marga parna batak
Text is available under the CC BY-SA 4.0 license; additional terms may apply.
Images, videos and audio are available under their respective licenses.
Cover photo is available under {{::mainImage.info.license.name 'Unknown'}} license.Cover photo is available under {{::mainImage.info.license.name 'Unknown'}} license. Credit: (see original file).